Senin pagi dan tantangan disertasi. Simak refleksi mendalam tentang perjuangan melawan kemalasan, tekanan waktu studi lanjut, hingga pertanyaan mendasar: Mengapa kita mengejar gelar yang lebih tinggi?
Membunuh Kemalasan di Senin Pagi yang Dingin
Senin kembali mengetuk pintu kamarku. Pagi ini, ia datang dengan wajah yang sama seperti minggu lalu—langit yang sedikit abu-abu, suara kendaraan yang mulai bising di kejauhan, dan secangkir kopi yang uapnya perlahan menghilang. Namun, ada yang berbeda di balik jemariku hari ini. Ada percikan semangat yang menolak untuk dipatahkan oleh rutinitas.
Bagiku, Senin bukan lagi sekadar awal pekan yang melelahkan atau sekadar hari yang dibenci oleh para pekerja kantoran. Senin ini adalah sebuah bejana kosong, tempatku menumpahkan segala emosi, ego, dan keluh kesah yang mengendap selama tujuh hari terakhir.
Aku ingin menulis. Aku harus menulis.
Selama ini, aku menyadari bahwa aku sering membiarkan waktu tersedot ke dalam lubang hitam bernama kemalasan. Hari-hari terbuang percuma dalam keanekaragaman alasan yang kuciptakan sendiri: “Ah, materinya belum lengkap,” atau “Tunggu mood-nya bagus dulu.” Padahal, inspirasi amatir menunggu mood, sementara penulis sejati duduk dan mulai mengetik.
Namun hari ini, aku membuat sebuah sumpah pada relung jiwaku: menulis adalah napas baruku. Jika rasa malas itu kembali datang bagai parasit dan mencoba mengusik jiwa estetikaku, aku bersumpah akan berontak. Aku akan berteriak pada diriku sendiri di depan cermin, memaksa saraf-saraf di jemariku untuk tetap menari di atas papan ketik, merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga layar putih ini penuh dengan jejak pemikiranku.
Disertasi: Hantu yang Terjadwal dalam Kalender
Namun, di tengah semangat yang baru tumbuh dan mekar itu, sebuah bayangan besar yang dingin membayangi punggungku. Sosok itu tidak memiliki wajah, tapi ia memiliki nama yang sanggup membuat tengkuk setiap mahasiswa pascasarjana meremang. Sosok itu bernama Disertasi.
Ia adalah hantu yang terjadwal. Berbeda dengan hantu di film horor yang muncul tiba-tiba, hantu ini tercatat rapi di kalender akademik. Setiap kali tanggal konsultasi dengan promotor mendekat, detak jantungku berpacu seperti genderang perang di medan laga. Tidur menjadi tak nyenyak, dan setiap tegukan air terasa seperti menelan kerikil. Aku ingin segera menuntaskannya, berlari secepat mungkin menembus belantara jurnal dan metodologi penelitian menuju garis finis sebelum waktu studi benar-benar habis.
Tapi pagi ini, sebuah kabar datang melalui pesan singkat: “Jadwal konsultasi diundur dua minggu lagi karena Profesor sedang ada dinas ke luar kota.”
Seketika, ruanganku terasa sangat sunyi. Detak jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Sungguh aneh, di saat aku sedang berada di puncak semangat—siap bertarung dengan bab analisis data—semesta justru memaksaku untuk menginjak rem dalam-dalam.
Aku benci jeda ini. Aku tak ingin kembali ke ritme lama yang lamban dan penuh penundaan. Sebagai tipe orang yang memicu adrenalin lewat tekanan waktu (deadline) yang sempit untuk bisa meledakkan seluruh potensi, jeda dua minggu ini tidak terasa seperti hadiah liburan. Sebaliknya, ia terasa seperti hukuman kurungan mental. Tanpa tekanan, monster kemalasan itu mulai mengintip kembali dari balik pintu.
Sindrom Penipu di Menara Gading
Untuk membunuh jeda yang menyiksa itu, aku membuka kembali naskah draf kasarku.
“Selesaikan saja dulu,” bisikku pada layar laptop yang berpijar, mencoba menyemangati diri sendiri. “Tak perlu sempurna. Revisi adalah urusan nanti, biarkan dosen yang mencoret-coretnya. Yang penting, naskah ini bernyawa dan logikanya berjalan.”
Tapi kemudian, keraguan itu menyelinap lewat celah jendela, terbawa oleh angin pagi yang dingin. Sindrom Penipu, atau yang populer disebut Imposter Syndrome, mulai membisikkan racunnya di telingaku.
Benarkah apa yang kukerjakan selama ini? Apakah ribuan kata yang kubaca, kutelaah, dan kupahami dengan cepat ini sudah berada di jalur akademis yang benar? Atau aku hanya merangkai kutipan orang lain agar terlihat pintar? Efektivitas dan efisiensi kerja yang selalu kupuja-puja, apakah itu wujud kecerdasan nyata, atau hanya pelarianku untuk menutupi ketidakmampuanku berpikir mendalam?
Semakin lama aku menatap layar, huruf-huruf itu tampak seperti sekumpulan semut yang kehilangan arah. Rasa percaya diriku luntur, digantikan oleh kesadaran bahwa semakin banyak aku membaca, semakin aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa.
Mempertanyakan Ambisi: Gelar, Ego, dan Tujuan Hidup
Aku terhenti. Sebuah pertanyaan eksistensial yang jauh lebih besar menghantamku lebih keras dari tuntutan revisi mana pun dari penguji.
“Jika aku sering merasa tidak mampu dan tersiksa seperti ini, kenapa aku harus memaksakan diri sekolah lagi? Bukankah gelar magister yang sudah kuraih sudah cukup untuk membuatku berdiri tegak di tengah masyarakat?”
Untuk apa huruf-huruf tambahan di depan atau di belakang namaku nanti? Sebenarnya, apa yang kucari dari jenjang studi tertinggi ini? Apakah aku benar-benar mencari kebenaran ilmu pengetahuan, atau sekadar memberi makan ego agar dihormati dalam hierarki sosial?
Terkadang, institusi pendidikan terasa seperti pabrik yang mencetak manusia dengan label-label harga. Kita berlomba-lomba mengumpulkan gelar hanya karena takut dianggap tertinggal, tanpa pernah benar-benar bertanya: Apa sebenarnya tujuan hidupku di luar tembok kampus ini?
Aku menatap pantulan wajahku di layar laptop yang kini mulai meredup karena screensaver menyala. Kantung mataku menghitam, rambutku sedikit berantakan, dan garis kelelahan tergambar jelas di sana. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan besar itu belum ada di sana. Layar itu hanya memantulkan realita fisikku, bukan kedalaman jiwaku.
Mungkin, jawaban itu memang tidak akan ditemukan dalam satu kali perenungan. Mungkin, ia sedang bersembunyi dengan cerdik di balik paragraf-paragraf disertasi yang belum sempat kutulis. Mungkin, proses menulis yang menyakitkan inilah jawaban itu sendiri—sebuah proses penempaan yang tidak hanya menguji intelektualitas, tapi juga ketahanan mental.
“Mungkin esok,” gumamku dengan suara parau, sambil menutup layar laptop pelan-pelan hingga terdengar bunyi ‘klik’ yang memecah keheningan. “Mungkin di postingan berikutnya, atau di bab selanjutnya, aku akan menemukan keberanian untuk menjawabnya.” Untuk hari ini, membiarkan pertanyaan itu tetap menggantung adalah satu-satunya bentuk kewarasan yang bisa kupertahankan.

