Malam itu, aspal jalanan tampak bergelombang seperti ombak di mata Joko. Di persimpangan yang temaram, mereka berpisah arah, namun ada sesuatu yang ganjil. Dua sosok pucat nan tipis, setipis harapan di tanggal tua, membuntuti mereka dengan gerakan yang terlalu sunyi untuk ukuran makhluk bernapas. Seolah-olah maut sedang melakukan pembelahan diri—sebuah teknik penggandaan yang biasanya hanya ditemukan dalam komik remaja, namun kini terasa sangat nyata dan mengancam.
Dansa dengan Kematian (Versi Joko)
Joko tidak berjalan; dia sedang menavigasi bumi yang tiba-tiba kehilangan gravitasinya. Aroma wiski lokal yang murah menguap dari pori-porinya, menciptakan aura pelangi di kepalanya. Tiba-tiba, di depannya berdiri sebuah sosok. Putih, kaku, dan sepucat dinding rumah sakit.
Alih-alih lari, Joko justru menyeringai. Matanya yang merah menatap sosok itu dengan penuh rasa rindu yang salah sasaran. “Soleh! Bajingan kau!” teriaknya, suaranya parau namun penuh semangat. “Cepat sekali kau ganti baju. Mau main petak umpet, hah?”
Tanpa aba-aba, Joko merangsek maju. Dia melakukan gerakan yang menyerupai tarian perut yang gagal sebelum akhirnya menerjang sosok itu dengan pelukan maut. Makhluk itu—yang seharusnya menjadi teror malam—tercekik oleh aroma alkohol dan keringat Joko. Dalam satu kejutan metafisika, sosok itu perlahan memudar, seolah-olah martabatnya sebagai hantu baru saja dihancurkan oleh pelukan pria mabuk.
“Loh? Leh? Kok hilang? Kau belajar ilmu hitam di mana, Soleh?” Joko bergumam sebelum akhirnya roboh di teras rumahnya sendiri, mendengkur keras seolah dunia baik-baik saja.
Resital Ketakutan (Versi Soleh)
Sementara itu, Soleh sedang berada di ambang kehancuran mental. Ketakutan bukan lagi sekadar keringat dingin; ketakutan adalah sebuah dorongan estetika yang absurd. Semakin jantungnya berdegup kencang, semakin banyak diksi puitis yang mendidih di otaknya. Ini adalah kutukan genetiknya: Panic-Induced Poetry.
Saat bayangan putih itu mendekat di balik pohon kamboja, Soleh tidak berteriak. Dia justru berdiri tegak, memejamkan mata, dan mulai mendeklamasikan bait-bait puitis dengan nada yang sangat emosional namun mengerikan bagi telinga siapapun:
“Wahai entitas tanpa pori-pori,
Kenapa kau hadir saat dompetku sedang sunyi?
Kain kafanmu butuh deterjen sepertinya,
Mencolok mata bagai rindu yang tak ada ujungnya!”
Hantu itu terpaku. Ada getaran keraguan di udara. Soleh terus meracau, puisinya semakin tidak masuk akal seiring dengan rasa takut yang semakin mencekam. Bagi sang makhluk, ini bukan lagi soal menakuti manusia; ini adalah siksaan sastra yang tak tertahankan.
Simfoni Sastra yang Teraniaya
Soleh masih berdiri tegak di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip seperti sandi Morse yang sekarat. Makhluk di depannya—seorang perempuan bergaun putih dengan rambut yang tampaknya belum pernah menyentuh sisir sejak zaman kolonial—mulai merasa ragu. Biasanya, manusia akan kencing di celana atau setidaknya pingsan. Namun, pria di depannya ini justru mengambil pose teatrikal, satu tangan menempel di dahi, tangan lainnya menunjuk ke arah bulan.
“Berhenti!” teriak Soleh, suaranya bergetar antara ketakutan akut dan gairah pujangga yang tersesat. “Jangan kau mendekat, wahai entitas tanp-alas-kaki! Dengarkan rima terakhirku sebelum jantungku menyerah pada takdir!”
Soleh menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah dan ketakutan murni.
“O, Puan yang pucat bagai kertas tagihan listrik,
Rambutmu menjuntai, hitam, kelam, dan… agak berisik?
Jika kau datang untuk nyawaku, ambillah dengan perlahan,
Asalkan jangan kau tanya, kapan aku akan melamar mantan!”
Makhluk itu terpaku. Ada keheningan yang canggung di antara mereka. Sang hantu, yang mungkin sudah berusia ratusan tahun dan telah menakuti ribuan jenderal hingga rakyat jelata, merasa harga dirinya sebagai legenda urban terkoyak. Baginya, puisi Soleh bukan sekadar buruk; itu adalah sebuah penghinaan intelektual.
Dengan satu desisan pelan yang terdengar seperti ban bocor, makhluk itu memilih untuk memudar ke dalam kegelapan. Dia lebih baik menghilang daripada harus mendengarkan bait kelima dari manusia yang selera sastranya lebih rendah dari harga wiski oplosan.
Soleh terengah-engah. Lututnya akhirnya menyerah. Dia ambruk di trotoar, masih menggumamkan kata “Rima… A-B-A-B…” sebelum kesadarannya padam total.
Pagi yang Menghakimi (Resolusi)
Matahari terbit dengan kecerahan yang menyakitkan, seolah sengaja ingin menghukum siapa pun yang nekat begadang semalam. Joko terbangun di teras rumahnya dengan posisi kaki di atas pot bunga. Kepalanya terasa seperti sedang dipukuli oleh sekelompok kurcaci dengan palu godam.
“Leh…” gumam Joko saat melihat bayangan seseorang mendekat.
Itu Soleh. Sahabatnya itu berjalan dengan langkah gontai, matanya sembab, dan memegang sebuah buku saku lusuh.
“Jok,” suara Soleh serak, “Semalam aku bertemu maut. Dan aku… aku melawannya dengan diksi.”
Joko memijat keningnya yang berdenyut. “Halah, gaya kau. Semalam aku malah memelukmu, Leh. Kau ganti baju putih, kan? Licin sekali badanmu, sampai bisa menghilang begitu saja. Kau belajar sulap di mana saat mabuk?”
Soleh terhenti. Dia menatap Joko dengan tatapan kosong. “Putih? Memeluk?”
“Jika kau tak bisa menjadi pahlawan yang gagah, jadilah orang yang sangat aneh sampai setan pun enggan berurusan denganmu.”
JOKO DAN sOLEH
Mereka berdua terdiam di teras itu. Joko dengan memori “Soleh yang licin”, dan Soleh dengan memori “Hantu yang benci puisi buruk”. Sebuah kesadaran kolektif perlahan merayap di antara mereka: bahwa ada hal-hal di dunia ini yang lebih mengerikan daripada hantu, yaitu kombinasi antara wiski murah dan bakat seni yang dipaksakan.

