Langit Plin-Plan

Langit Plin-Plan

Langit hari ini sedang murung, mengirimkan gerimis tipis yang tidak cukup kuat untuk membasahi bumi, namun cukup lihai untuk membuat serat-serat bajuku terasa lembap. Kelembapan ini tidak meresap ke kulit, melainkan menyusup ke dalam rongga dada sebuah rasa yang tak mampu dikecap oleh lidah, namun teraba jelas oleh hati yang sedang mencari ketenangan.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sekejap. Tanpa aba-aba, mendung tersingkap. Cahaya matahari tumpah dengan kasar, menyengat seperti lampu sorot yang dipaksa menyala di tengah kegelapan. Panasnya tidak hanya menyentuh kulit, tapi menembus sela-sela tulang yang kedinginan. Ada kehangatan yang mendesak, memaksa kebahagiaan lama untuk kembali muncul ke permukaan ingatan, pahit namun indah untuk dikenang.

Aku tertegun menatap kalender. Waktu seolah melakukan trik sulap yang jahat. Kemarin aku masih terjebak di hari Senin, meratapi kata-kata yang mogok keluar. Tiba-tiba, Selasa sudah berdiri tegak di depanku, menuntut janji yang belum lunas. Aku merasa kikuk, seperti penari yang kehilangan irama. Target dua ratus lima puluh kata sehari kini menumpuk, menggandakan beban yang harus kuselesaikan dalam waktu yang kian mencekik.
Segala sesuatu berubah dengan kecepatan yang menyakitkan. Baru saja aku merasakan dinginnya rintik hujan, sedetik kemudian matahari sudah membakar ubun-ubun. Perubahan ekstrem ini seolah mengejekku yang masih mematung di tempat yang sama.

Pukul sembilan pagi, dan matahari sudah memamerkan taringnya tanpa ampun. Aku seringkali ingin memutar balik kata-kata, atau mungkin memutar balik waktu, berharap bisa kembali ke titik di mana fokusku belum hancur oleh cuaca yang plin-plan. Orang mungkin akan tertawa melihat caraku mengolah kata, menganggapnya sekadar lelucon ringan, padahal ada kerumitan yang tak sempat mereka pahami.

Aku hanya ingin mencoba lagi. Esok, saat matahari kembali muncul, aku akan memaksakan jemariku untuk menari di atas papan tik. Dua ratus lima puluh kata—hanya itu. Sebuah angka kecil untuk sebuah kemenangan besar bagi jiwaku yang lelah. Semoga tulisan yang lahir dari kegelisahan ini bisa menjadi sesuatu yang bermakna, sebelum waktu kembali berlalu dalam sepersekian detik yang kejam.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *