Filosofi Dua Matahari

Filosofi Dua Matahari

The Beginning: Rezeki Nomplok di Pos Ronda

Setiap kali mendengar seruan “Dua Matahari!!!”, memoriku langsung terlempar pada dua sahabat yang kocak. Sebenarnya, itu adalah ungkapan yang absurd. Walau sering dilempar sebagai guyonan, makna aslinya adalah sebuah bentuk ketidakpercayaan mutlak terhadap apa pun yang sedang dibicarakan.

Kali ini, aku ingin bercerita sedikit untuk mengusir kekacauan di pikiranku. Ini adalah kisah tentang omong kosong, khayalan, dan tawa di tempat yang tidak semestinya.

“Jok, lu punya duit berapa?” Soleh bertanya sambil tangannya sibuk meraba-raba saku celana kumalnya. Joko membalas dengan gerakan serupa, menarik keluar lapisan kain saku yang putih kosong. “Habis, Leh. Kere gue!”

Bukannya sedih, keduanya malah tertawa terbahak-bahak meratapi kemiskinan mereka sendiri. Sambil berjalan santai menuju pos ronda, mata mereka menangkap sesuatu yang berkilau: beberapa bungkus makanan ringan dan botol minuman dengan merek “Topi Miring”.

Ritual di Pondok Kuburan: Antara Cita-Cita dan Halusinasi

Soleh dengan sigap membekap mulut Joko. “Diam kau, Jok! Kita nggak tahu ini punya siapa. Mending bawa kabur aja… Oke?” Dengan gerakan cekatan, semua logistik itu lenyap. Mereka berlari menuju sebuah pondokan di area pemakaman Tionghoa.
Sampailah mereka di pondokan yang dikelilingi nisan-nisan tua. Lampu jalan yang jauh hanya memberikan sisa-sisa cahaya temaram, membuat suasana makin mencekam. Namun, bagi dua sahabat ini, suasana bukanlah masalah. Mabuk wiski lokal adalah “jalan ninja” mereka.

Pletess! Tutup botol terbuka. Sambil menikmati cairan pahit itu, mereka mulai berbincang tentang masa depan di atas kuburan.
“Eh Jok, kalau lulus SMP nanti, lu mau ke mana?” tanya Soleh. “Rencananya sih mau masuk SMK, ambil jurusan Tata Boga. Cita-cita gue pengen jadi kayak Chef Juna!” jawab Joko mantap.

Malam Semakin Larut: Seruan “Dua Matahari” dan Teror Gaib

Teng… Teng… Teng… Suara tiang listrik dipukul, jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Di dalam pondok bertirai kuning itu, angin malam menyelinap masuk, mengembus jiwa-jiwa mereka yang sedang melayang.

“Jok! Kok lu mau sih masuk SMK? Kagak kuliah lo?” tanya Soleh. “Gue punya hobi unik, sering bantuin Emak masak. Rasanya kayak malaikat, Bro!” “DUA MATAHARI!!” Soleh berseru nyaring, merobek keheningan pemakaman. “Mau lu apa sih, Jok? Muka pas-pasan gitu gayanya mau jadi ahli masak!”

Saking asyiknya melempar khayalan, mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata tak kasat mata yang terus memantau dari balik bayangan nisan. Bulu kuduk meremang hebat—sebuah sinyal bahwa mereka tidak lagi berdua di sana.

Perpisahan di Persimpangan Jalan

“Jok… tadi ada yang merhatiin kita. Gue lihat matanya merah, melotot…” bisik Soleh saat mereka berjalan pulang bergandengan. Joko tersentak, tangannya mendadak gemetar hebat.

Tak terasa, mereka sampai di persimpangan jalan. “Ya udah, gue balik dulu ya, Jok. Lo hati-hati,” pamit Soleh sambil mengambil lajur kiri dengan jalan yang miring ke kanan.

Joko memberikan hormat layaknya prajurit kalah perang. “OKE KOMANDAN!” Mereka berpisah, tanpa menyadari makhluk tersebut membelah diri menjadi dua bayangan pekat yang membuntuti masing-masing menuju rumah.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *