Kelakuan Trio Sabun

Kelakuan Trio Sabun

Di pinggiran Desa yang terlupakan, hiduplah tiga pemuda yang masa depannya seburam air sungai di kala hujan. Tertulislah nama di suaratan takdir yang jauh di akhirat sana, yaitu Panji, Asep, dan Fajar. Sahabat trio tersebut yang lebih dikenal warga sekitar dengan sebutan “Trio Sabun”. Setiap hari mereka hanyalah menggunakan sarung kusam dan kaos oblong penuh lubang ventilasi alami.

Saat Pagi tiba, dengan wajah yang ala kadarnya. Seperti biasa, mereka melakukan kegiatan yang unfaedah yaitu nongkrong di balik rimbunnya semak pinggir sungai. Tangan-tangan yang sedikit kekar menyusun perlengkapan yang telah di bawa dari tempat persemayam mereka.

Waktu mulai berlalu, perlengakapan sudah di posisi yang strategis, terdengarlah suara suara tertawa manja di balik aliran sungai yang deras.

“Hahaha … hihii sabun nya kebanyakan jadi licin .. hahaha”

Dengan sigap panji mendengar suara tersebut, kemudian mata mereka bekerja lebih keras dari kuli panggul, mengawasi gerak-gerik para ibu muda yang sedang mencuci di kejauhan. Dengan sabun batangan yang sudah bolong di tengah sebagai senjata utama, mereka bersiap melakukan ritual harian yang mereka anggap “ibadah duniawi”.

Namun, tepat saat ritual mencapai puncaknya, kesunyian pecah. Tiga bayangan wanita muncul dari balik kabut tipis sungai. Mereka bukan ibu-ibu yang sedang mencuci, melainkan tiga janda dengan tatapan yang sanggup melunakkan besi. Ritual pun kacau. Pusaka kebanggaan trio tersebut mendadak mengkerut, ciut menghadapi tawa kecil para janda yang terdengar seperti melodi dari liang lahat.

Panji mencoba bersikap jantan, namun ia tak sadar ada yang aneh dengan janda di depannya. Saat janda itu menyingkap sarung, Asep yang paling gigih tiba-tiba membeku. Ia melihat sesuatu di balik kulit janda tersebut yang tidak seharusnya ada di sana. Wajah Asep memucat, lebih putih dari busa sabunnya. Ia menepuk punggung Panji dengan tangan bergetar, menunjuk ke arah “sarang” yang siap dirudal.

Fajar, yang sedari tadi terpesona, akhirnya menyadari apa yang mereka hadapi. Matanya melotot, suaranya tercekat di tenggorokan sebelum akhirnya meledak dalam teriakan yang membelah keheningan sungai…

Tragedi Sabun Kedaluwarsa

Fajar berteriak, tapi bukan suara manusia yang keluar. Dari mulutnya justru muncul bunyi tit-tit-tit seperti suara mundur truk pengangkut sampah.

Panji yang sudah bersiap “meluncurkan rudal” mendadak terhenti. Matanya membelalak saat melihat janda di depannya tidak lagi menyingkap sarung, melainkan menyingkap kulit wajahnya sendiri. Di balik kulit itu, bukan daging atau tulang, melainkan tumpukan busa sabun yang berwarna pelangi dan mengeluarkan aroma melati yang sangat menyengat—aroma yang sama dengan sabun batangan bolong yang dipegang Panji.

“Asep… Panji…” suara Fajar kini terdengar seperti sedang bicara di dalam akuarium. “Kenapa… kenapa wajah kalian jadi kotak?”

Asep menoleh, dan benar saja, tubuh Panji perlahan-lahan mengeras dan berubah menjadi kuning transparan. Lengan Panji kini memiliki ukiran tulisan timbul berbunyi: “NETTO 100g – EXP 1998”.

“Kita keracunan, Sep!” Panji berteriak, tapi suaranya keluar dalam bentuk gelembung-gelembung sabun yang melayang ke udara. “Sabun batangan yang kita temukan di gudang Pak RT itu… itu sabun edisi terbatas dari zaman Orde Baru yang sudah kedaluwarsa!”

Tiba-tiba, ketiga janda itu meledak menjadi ribuan busa sabun yang wangi. Sungai di depan mereka berubah menjadi air soda yang mendidih. Ibu-ibu muda dan perawan yang tadinya mereka intip kini berubah menjadi sikat cuci raksasa yang mulai mengejar mereka sambil berteriak, “BERSIHKAN PIKIRANMU! BERSIHKAN DOSAMU!”

Asep, yang memiliki keteguhan hati “pantang lintuk sebelum menembak”, mencoba melawan. Ia melemparkan sisa sabunnya ke arah sikat raksasa itu. Namun, bukannya meledak, sikat itu justru membesar dan mulai menyikat punggung Asep dengan kecepatan tinggi hingga Asep mengeluarkan bunyi ngik-ngok setiap kali bergesekan.

“Lari ke warung!” perintah Panji yang kini kakinya sudah menyatu menjadi satu blok sabun besar, sehingga ia harus melompat-lompat seperti pocong wangi melati.

Mereka bertiga berusaha melarikan diri, namun gravitasi di pinggir sungai itu mendadak hilang. Mereka melayang-layang di udara bersama pakaian-pakaian dalam yang sedang dijemur. Fajar mencoba berpegangan pada sehelai daster yang terbang, namun daster itu malah memeluknya dan berkata, “Nak, jangan lupa pakai pelembut pakaian.”

Tiba-tiba, dunia menjadi gelap gulita. Hanya ada satu suara yang bergema di kepala mereka, suara yang sangat familiar.

“Woi! Bangun! Malah ngiler di pinggir kali!”

PLAK!

Sebuah gayung mendarat tepat di jidat Panji. Cahaya matahari yang terik menusuk mata mereka. Ternyata mereka bertiga masih di pinggir sungai, terduduk lemas dengan mulut berbusa ringan bukan karena penyakit, tapi karena mereka ketiduran sambil mengulum sabun batangan yang mereka sangka adalah cokelat batangan akibat efek lapar tingkat dewa.

Di depan mereka berdiri Pak RT dengan wajah garang sambil memegang ember. “Kalian bertiga kalau mau mabuk jangan pakai sabun kedaluwarsa! Nih, makan gorengan, jangan sabun dimakan!”

Trio Sabun terdiam, saling lirik dengan wajah merah padam. Ritual “duniawi” mereka berakhir dengan rasa pahit sisa deterjen di lidah dan trauma terhadap janda beraroma melati.

Filosofi Busa yang Pecah

Panji, Asep, dan Fajar masih terduduk lemas di pinggir sungai dengan lidah yang terasa getir. Pak RT sudah pergi sambil menggerutu, meninggalkan mereka dengan sebungkus gorengan dingin yang rasanya jauh lebih mewah daripada halusinasi janda melati tadi.

Panji menatap sabun batangan yang sudah hancur itu. Sabun yang tadinya mereka anggap sebagai alat pemuas nafsu, kini hanyalah bongkahan kimia yang tidak berguna.

“Sep, Jar,” suara Panji parau, sisa-sisa busa masih keluar sedikit dari sudut bibirnya. “Mungkin ini teguran alam. Kita melihat perempuan seperti kita melihat benda—hanya untuk dinikmati, tanpa pernah menghargai.”

Asep mengusap jidatnya yang merah terkena hantaman gayung Pak RT. “Iya, Panji. Kita terlalu sibuk mengintip kemolekan orang lain, sampai kita lupa kalau diri kita sendiri sudah jadi ‘sampah’ yang tidak terurus. Sarung bau, kaos oblong robek, dan pikiran yang cuma berisi deterjen.”

Fajar menatap ke arah sungai yang kini terlihat tenang. Ibu-ibu muda dan para perawan yang tadi mereka intip kini sudah pulang ke rumah masing-masing, membawa cucian yang bersih untuk keluarga mereka. Sementara Trio Sabun? Mereka masih di sana, kotor oleh tanah dan rasa malu.

“Hawa nafsu itu seperti sabun kedaluwarsa: awalnya menarik, tapi akhirnya hanya meninggalkan buih kosong dan rasa pahit. Kehormatan seorang pria bukan di mata yang mengintai, melainkan di tangan yang bekerja keras dan hati yang menjaga pandangannya.”

Trio Sabun Bolong

Semenjak hari itu, Trio Sabun berganti nama menjadi Trio Resik. Mereka tidak lagi nongkrong di semak-semak untuk mengintip. Mereka mulai memakai pakaian yang rapi, mencari pekerjaan yang halal, dan membantu warga membersihkan sungai.

Sebab mereka sadar, untuk mendapatkan “perawan” atau “janda” yang sesungguhnya di kehidupan nyata, mereka tidak butuh sabun batangan yang bolong di tengah. Mereka butuh harga diri yang utuh dan tangan yang mau bekerja keras.

Karena pada akhirnya, keindahan fisik akan pudar seperti wangi sabun yang tertiup angin, namun kehormatan seorang pria akan tetap harum jika ia tahu cara menjaga pandangannya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *