Misteri Suntikan Bobby

Adegan misterius Bobby menyuntikkan sesuatu ke tangan Jono dalam cerita pendek Agus Byna.
Apakah ini tindakan penyelamatan atau rencana yang lebih gelap?

Pertemuan Tak Terduga yang Berujung Misteri

Sebuah insiden ‘aroma’ memalukan di kampus mempertemukan Jono dengan Ajeng yang ayu. Namun, keceriaan itu sirna saat Jono jatuh sakit dan menemukan sisi gelap Bobby, sahabat karibnya. Di ambang kesadaran, sebuah suntikan misterius mendarat di nadinya. Siapakah yang bisa dipercaya?

Insiden “Hadiah” dan Pertemuan dengan Ajeng

Perutku terasa melilit, perih sekali seperti diiris pisau dapur. Tak tertahankan, tiba-tiba muncul suara merdu yang tak diundang: “Tut… brobot bot.” Sialnya, tepat di sebelahku ada seorang nenek yang langsung menghirup aroma “hadiah” dari perutku hingga ia mual.

“Maaf ya, Nek, perutku lagi tidak enak,” kataku gemetar antara takut dan malu. Setelah sedikit adu mulut yang jenaka, aku mengajak Nenek yang lemas itu ke kantin kampus. Aku teringat, siang ini aku memang hanya menyantap sambal dan telur bebek mata sapi.

Di tengah usaha permintaan maafku, seorang gadis berjilbab biru berlari mendekat. “NENEK! Nenek kenapa? Kok tidak kasih tahu Ajeng?”

Aku tertegun. Wajahnya ayu dan kalem. “Perkenalkan, namaku Jono,” jawabku kikuk saat Ajeng menatapku bingung. Itulah awal mula benih-benih cerita ini tertanam.

Sakit yang Tak Biasa dan Sosok Bobby

Beberapa minggu kemudian, kepalaku terasa mau pecah. Nyut, nyut, nyut. Pandanganku menggelap, dan tubuhku ambruk ke dalam kegelapan. Saat terbangun, aku sudah berada di kos Bobby, sahabat karibku selama empat tahun.

“Kenapa lo, Bro?” tanya Bobby dengan wajah baby face-nya yang cemas. Bobby adalah sahabat yang sempurna—tampan dan setia kawan. Namun, ada satu hal yang janggal: selama empat tahun, dia tidak pernah mengenalkan satu pun perempuan padaku. Alasan klasiknya selalu soal karier dan membahagiakan orang tua.

Kabar Duka dan Suntikan Misterius

Saat aku merenungkan ucapan Bobby, ponselku berdering. Nama Ajeng muncul di layar. “Jono… hiks… Nenek, Jon… Nenek sudah… uaaaaa!” tangisnya pecah.

Jantungku berdegup kencang. Kabar duka tentang Nenek menyergap di saat kondisiku sedang di titik nadir. Aku mencoba bangkit, tapi dadaku dihantam nyeri hebat. Napas kusesaki. Dengan sisa tenaga, aku mematikan telepon itu.

Maaf, Ajeng, terpaksa kututup…

Dalam kaburnya pandangan dan erangan kesakitan, aku mendengar langkah kaki cepat mendekat. Sebuah bayangan muncul di depanku. Bukannya membawa obat maag, tangan itu memegang pergelangan tanganku dengan kuat dan menyuntikkan sesuatu ke pembuluh darahku. Setelah itu, dunia kembali sunyi.

Mungkin saat itu Jono butuh lebih dari sekadar keberanian; ia butuh Kesabaran untuk membedah mana kawan dan mana lawan. Kisah Jono ini mengingatkanku pada guyonan Dua Matahari; sesuatu yang terdengar mustahil, namun nyatanya terjadi tepat di depan mata.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *