Namun, seperti kata orang bijak, hidup tak selamanya mulus seperti pantat bayi. Masalah pertama datang dari tetangga kost sebelah, Pak RT yang hobi menegur dengan volume suara pesawat jet. Suatu malam, suara di kepalanya berbisik, “Lempar saja sandal jepit ke mukanya, biar kapok.”
Ali menghela napas. “Kau tahu, itu ide buruk. Aku malah bisa ditangkap polisi dan jadi terkenal di media sosial dengan caption ‘Pria Sandal Jepit Mengamuk’.”
Namun, hari-hari berikutnya, ia mulai menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali hawa nafsu itu muncul—entah itu amarah, iri, malas, atau ingin mengambil sesuatu yang bukan haknya—suara itu tak pernah benar-benar jahat. Suara itu hanya… terlalu jujur. Terlalu primitif. Seperti anak kecil yang bilang “Aku mau itu!” tanpa filter.
Ali memutuskan untuk melakukan eksperimen gila. Daripada melawan suara itu, ia akan mengajaknya berdialog.
Suatu pagi, saat matahari menyengat seperti oven raksasa dan ia harus berjalan ke kampus, suara itu berbisik, “Bolos saja. Tidur lagi enak. Kau kan lelah.”
Biasanya Ali akan bergumam, “Dasar suara setan.” Kali ini ia menjawab, “Oke, aku dengar kau capek. Tapi kalau aku bolos, aku akan dapat nilai jelek. Lalu aku akan stres. Lalu aku akan makan Indomie lima bungkus sekaligus dan makin capek. Ada saran lain?”
Suara itu terdiam sejenak. Lalu, dengan nada sedikit malu-malu, “Baiklah… bagaimana kalau kau pergi ke kampus, tapi setelah kelas selesai, kau izinkan dirimu tidur siang tanpa rasa bersalah?”
Ali mengangkat alis. “Itu sebenarnya saran yang cukup dewasa.”
“Jangan terlalu kaget. Aku kan bagian dari dirimu juga, bodoh.”
Sejak saat itu, hubungan Ali dengan hawa nafsunya berubah. Ia mulai menyadari bahwa setiap dorongan negatif sebenarnya memiliki inti positif yang tersembunyi—hanya saja dibungkus dengan kemasan yang norak dan tidak dewasa.
Ketika suara itu berbisik “Kau iri sama si Joko yang dapat pujian dosen, lebih pintar apa dia?”, Ali belajar mengubahnya menjadi “Aku ingin mencapai prestasi seperti Joko. Ayo belajar lebih giat.”
Ketika suara itu berbisik “Makan saja martabak itu, peduli setan sama diet”, Ali menjawab, “Kau benar, aku lapar. Tapi bagaimana kalau kita makan martabak setengah porsi, dan sisanya untuk besok?” Suara itu merengek tapi akhirnya setuju.
Bahkan saat suara itu berbisik “Tulis saja omong kosong di skripsimu, dosen pembimbingmu tidak akan baca juga”, Ali malah tersenyum. “Kau ingin aku cepat lulus, ya?” Suara itu tidak menjawab, tapi Ali bisa merasakan semacam anggukan malu-malu.
Komedi terbesar terjadi saat Ali jatuh cinta pada seorang mahasiswi bernama Maya. Suara hawa nafsunya langsung heboh seperti ibu-ibu di pasar: “Ajak ngomong! Gombalin! Bilang ‘kamu secantik bintang jatuh’ atau ‘kamu membuat hatiku berdebar seperti mesin cuci’!”
“Mesin cuci? Itu gombalan paling buruk yang pernah kudengar.”
“Ya sudahlah, yang penting action! Jangan cuma diam melongo kayak ikan cupang mati!”
Ali menarik napas dalam-dalam. Ia lalu mendekati Maya dengan gugup. “Maya… aku suka… cara kamu memegang pulpen. Kelihatan profesional.”
Maya tertawa. “Itu gombalan paling aneh yang pernah kuterima.”
Suara di kepala Ali berteriak, “GAGAL TOTAL! KAU MEMALUKAN!”
Tapi Maya melanjutkan, “Tapi lucu juga. Mau minum kopi?”
Percakapan berlanjut. Ternyata Maya adalah tipe yang menyukai kejujuran konyol. Ali pun dengan polosnya bercerita soal “suara nakal” di kepalanya. Maya bukannya menganggapnya gila, malah terpingkal-pingkal.
“Jadi, suara itu yang menyuruhmu ngomong soal pulpen tadi?”
“Iya. Katanya sih lebih baik bertindak daripada melamun.”
“Itu suara yang pintar sebenarnya,” kata Maya sambil tersenyum.
Suara di kepala Ali tiba-tiba berbisik dengan nada pede setengah mati, “Nah, kan? Aku bilang apa? Aku kan hebat.”
Ali hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Setahun kemudian, Ali telah lulus dan menjadi penulis lepas. Ia menulis buku berjudul “Berkawan dengan Iblis Kecil: Cara Menjinakkan Hawa Nafsu Jadi Sukses”. Bukunya laris manis bukan karena isinya yang mendalam, tapi karena gaya bicaranya yang blak-blakan dan lucu—gaya bicara yang ia pelajari justru dari suara hawa nafsunya sendiri.
Pada suatu malam yang sunyi, Ali sedang mengetik bab terakhir bukunya. Suara di kepalanya berbisik, “Kau tahu, awalnya aku kesal kau selalu melawan. Tapi sekarang… terima kasih sudah mendengarkan.”
Ali berhenti mengetik. Matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku juga terima kasih. Tanpamu, aku mungkin masih jadi pemalas yang takut mengambil risiko.”
“Ya, tapi aku tetap tidak akan membiarkanmu lupa untuk makan martabak keliling setiap malam Jumat. Itu harga mati.”
Ali tertawa keras hingga tetangganya mengetok dinding. Ia melanjutkan menulis, ditemani suara kecil di kepalanya yang kini bukan lagi musuh, melainkan sahabat paling jujur yang pernah ia miliki.
Karena kadang, yang kita butuhkan bukanlah membunuh hawa nafsu. Tapi mengajaknya ngopi, mendengarkan keluh kesahnya, dan berkata, “Hei, mari kita ubah amarahmu jadi energi, irimu jadi motivasi, dan malasmu jadi kreativitas untuk mencari jalan pintas yang cerdas.”
Dan tentu saja, jangan lupa martabak. Itu yang terpenting.
