Udara di dalam gedung tua bekas percetakan itu mendadak menjadi sangat kering, seolah atmosfer itu sendiri sedang menyedot kelembapan langsung dari tenggorokan Soleh. Di atas mereka, Sang Editor Maut melesat turun dari langit-langit yang lapuk. Ia bukan hantu biasa; wujudnya adalah amalgamasi mengerikan dari ribuan naskah yang ditolak, disatukan oleh rasa frustrasi penulis dari berbagai abad.
Pensil 2B raksasanya berayun membelah udara dengan suara tebasan yang memekakkan telinga. SWUSHH! Ujung grafitnya yang setajam tombak menghantam lantai marmer tepat di antara Joko dan Soleh, menciptakan kawah kecil yang mengepulkan debu semen dan aroma kertas terbakar.
“SPOK TIDAK JELAS! MAJAS HIPERBOLA YANG GAGAL! KALIAN HARUS DIHAPUS DARI KANON LITERASI!” raung Sang Editor Maut. Suaranya tidak terdengar seperti pita suara manusia, melainkan seperti ribuan lembar kertas basah yang diremas dan dirobek secara bersamaan.
Pertarungan Melawan Sang Editor Maut
Di sudut ruangan, Joko sedang tidak dalam kondisi prima untuk bertarung. Pria yang baru saja menolak mati dengan menelan wiski emas murni itu kini sedang mengalami krisis anatomi yang melanggar hukum biologi.
Serangan Tinta Merah dan Krisis Anatomi Joko
Jempol kaki kanannya tiba-tiba membengkak hebat. Daging dan tulangnya berekspansi, menjebol ujung sepatu kanvas murahnya dengan bunyi krekkk robekan kain yang menyedihkan. Jempol itu kini membesar seukuran melon jingga, berdenyut-denyut agresif dan memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Sementara itu, telinga kirinya merespons anomali magis tersebut dengan melebar dan menipis, menyerupai daun pisang raksasa yang terlipat aneh di samping kepalanya.
“Jok! Kuping lo! Jempol lo!” teriak Soleh, matanya membelalak ngeri melihat sahabatnya berubah menjadi monster anatomi asimetris yang sama sekali tidak memiliki nilai estetik.
“Jangan urusin fisik gue sekarang, Leh! Tulis sesuatu! Gue nggak tahu cara jalan pakai jempol segede gaban begini!” Joko panik luar biasa. Ia mencoba mengambil langkah taktis untuk mundur, tapi beban gravitasi dari jempol raksasanya membuat keseimbangannya hancur total. Ia malah berputar di tempat seperti gasing rusak, sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin.
Di hadapan mereka, Sang Editor Maut memutar pensil raksasanya dengan gerakan mematikan. Ujung grafit pensil itu kini meleleh, mengeluarkan cairan merah kental yang mendidih—Tinta Merah Revisi. Makhluk itu mengayunkan pensilnya layaknya selang pemadam kebakaran bertekanan tinggi, menyemburkan rentetan huruf merah bercahaya ke arah kedua pemuda itu.
TYPO! KLISÉ! PLAGIAT! REDUNDAN! Kata-kata mematikan itu meluncur deras bak proyektil peluru. Refleks pelindung Joko bekerja jauh sebelum sistem saraf pusat di otaknya memproses keadaan. Ia menunduk secara instingtif dan menggunakan telinga kirinya yang seukuran daun pisang sebagai tameng hidup.
PLAK! PLAK! CRESS! Huruf-huruf berapi itu menghantam permukaan telinga raksasa Joko, memercikkan bunga api merah ke segala arah. Anehnya, kulit telinga yang termutasi itu sama sekali tidak hangus. Joko tidak merasakan sakit, melainkan gelombang rasa geli yang luar biasa, seolah gendang telinganya sedang digelitik paksa oleh bulu ayam beraliran listrik statis.
“Leh! Telinga gue kebal damage, tapi gue nggak bisa nahan tawa! HAHAHA! Buruan nulis rima mantra lo, kampret!” teriak Joko, tubuhnya berguncang karena tertawa terpingkal-pingkal di balik perlindungan tameng telinga anehnya.
Rima Penyelamat: Transformasi Babi Kertas
Soleh menggertakkan giginya hingga berbunyi. Pena Phoenix di tangan kanannya terasa sangat hangat, memancarkan energi berdenyut seolah mendesak tuannya untuk segera menumpahkan tinta kebenaran. Ia membuka halaman kosong di buku saku kumalnya. Namun, di bawah tekanan maut entitas literasi dan suara tawa absurd Joko yang mengganggu konsentrasi, seluruh perbendaharaan kata puitis di otaknya menguap tanpa sisa. Ia tidak punya waktu untuk menyusun puisi indah; ia harus mengandalkan insting jalanan yang kasar.
Soleh menekan ujung pena emas itu ke atas permukaan kertas dan berteriak sekuat tenaga sambil menulis secara real-time,
“Wahai kertas jelek bermuka rata, Pegang pensil tapi tak punya mata! Tinta merahmu bau terasi basi, Lebih baik kau berubah jadi… jadi…”
Soleh tersendat. Rima di kepalanya buntu. Di depannya, pensil raksasa Sang Editor Maut sudah terangkat tinggi hingga menyentuh langit-langit, bersiap menghantam dan menghancurkan tameng telinga Joko berkeping-keping.
“…JADI BABI!” teriak Soleh panik, menggoreskan kata terakhir dengan membabi buta ke atas kertas.
Seketika, rentetan tulisan Soleh memancarkan pendaran cahaya biru neon yang menyilaukan seisi gedung. Sebuah gelombang kejut kinetik tak kasatmata meledak dari buku saku tersebut dan menghantam dada Sang Editor Maut.
Makhluk raksasa dari tumpukan kertas itu bergetar hebat. Kertas-kertas yang membentuk struktur wajahnya mulai berkerut, melipat diri mereka sendiri ke dalam dengan gerakan patah-patah layaknya seni origami berkecepatan tinggi. Dalam hitungan detik, alih-alih monster mengerikan pencabut nyawa penulis, kini berdiri di hadapan mereka seekor babi kertas raksasa yang gemuk. Ia mendengus-dengus kebingungan sambil mengibaskan ekor keriting kertasnya. Tinta merah masih menetes perlahan dari moncongnya.
“Oink… REVISI… Oink!” dengus babi kertas itu, masih berusaha mengintimidasi namun dengan frekuensi nada yang kini terdengar sangat menggelikan.
Joko mengintip hati-hati dari balik telinganya. “Leh, lo jenius sinting! Tapi babi kertas obesitas ini masih mau nyeruduk kita!”
Babi kertas raksasa itu menggaruk lantai marmer dengan kuku kertas kartonnya, mengambil ancang-ancang seperti banteng matador, dan menyeruduk beringas ke arah Soleh.
“Jok! Lakuin sesuatu! Rima gue lagi cooldown!” jerit Soleh sambil melompat mundur taktis, memeluk erat-erat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) miliknya seperti perisai terakhir.
Joko menatap jempol kaki raksasanya yang masih berdenyut memancarkan cahaya emas. “Oke, mari kita uji daya dorong hidrolik jempol subsidi ini.”
Joko merebahkan tubuhnya, berbaring telentang di atas lantai marmer. Ia menarik lutut kanannya mendekat ke dada, memampatkan kakinya layaknya pegas mekanik yang ditekan ke titik maksimal. Saat bayangan babi kertas itu berada tepat di atasnya, menutupi cahaya lampu dan bersiap menginjak wajahnya, Joko melepaskan tendangan lurus vertikal ke atas dengan mengarahkan seluruh sisa tenaga di ototnya.
“RASAKAN TENDANGAN JEMPOL SUBSIDI!” raung Joko menggelegar.
DUAAARR!
Jempol raksasa itu menghantam perut babi kertas dengan telak. Efek ledakannya bukan berupa semburan api, melainkan badai konfeti epik yang terbuat dari jutaan potongan kertas revisi berukuran mikro. Babi raksasa itu terlempar ke udara layaknya roket, menabrak langit-langit gedung hingga retak, lalu meledak dan hancur berkeping-keping. Ruangan itu kini dipenuhi oleh hujan serpihan kertas putih yang turun perlahan layaknya salju di musim dingin.
Sang Editor Maut telah binasa secara permanen. Coretan merahnya menguap dari udara, lenyap tanpa menyisakan jejak.
Pembentukan Divisi Penindakan Anomali Absurd (KUG)
Ruangan gedung percetakan itu kembali sunyi senyap. Hanya menyisakan bunyi napas Joko dan Soleh yang tersengal-sengal mencari oksigen. Ketika hujan kertas terakhir menyentuh lantai, kelima sosok berjubah misterius dari Dewan Kurator—yang sejak awal pertarungan bersembunyi pengecut di bawah meja marmer raksasa—akhirnya merangkak keluar sambil menepuk-nepuk debu dari jubah sutra mereka.
Mereka membentuk formasi setengah lingkaran dan mulai bertepuk tangan. Lambat, sangat kaku, namun memancarkan aura penghormatan yang tulus.
“Luar biasa di luar nalar,” kata sosok yang berdiri di tengah. “Itu adalah eksekusi puisi terburuk dan teknik tendangan kaki paling tidak higienis yang pernah kami saksikan dalam sejarah ribuan tahun observasi kami. Sang Editor Maut tidak hancur karena sihir tingkat tinggi; ia hancur karena logika rima yang gagal total dan trauma fisik yang teramat memalukan.”
Soleh berusaha mengatur napasnya. Ia mencoba merestorasi harga dirinya dengan berpose keren sambil meniup ujung Pena Phoenix-nya layaknya koboi sehabis menembak, meski tangannya masih bergetar hebat. Joko, sementara itu, sedang berjuang keras untuk duduk karena telinga kanannya perlahan menyusut kembali ke ukuran normal dengan bunyi wusss pelan, diikuti oleh jempol kakinya yang mengempis cepat layaknya ban mobil bocor halus.
“Jadi… kita berdua selamat dari eksekusi?” tanya Joko retoris, sambil mengecap bibirnya untuk memastikan sisa-sisa rasa wiski emas supranatural di lidahnya sudah benar-benar hilang.
“Kalian lebih dari sekadar selamat, anak muda,” ucap anggota Dewan Kurator yang berdiri di sisi paling kanan. Ia menjentikkan jarinya ke udara kosong.
Dari celah dimensi di udara, jatuhlah sebuah kotak kayu jati berukir kecil. Kotak itu mendarat dengan mulus tepat di pangkuan Soleh. Soleh membukanya dengan hati-hati. Di atas bantalan beludru merah muda di dalamnya, terbaring dua buah tanda pengenal logam tebal yang berkilau menantang temaram lampu minyak gedung tersebut.
Soleh mengangkat satu kartu. Matanya menyipit, membaca tulisan yang terukir rapi dengan teknologi emboss gaib:
KANTOR URUSAN GHOIB (KUG) SUKAMAJU Divisi Penindakan Anomali Absurd Joko & Soleh – Petugas Borongan Tingkat I
“Tunggu dulu… Ini ID Card pegawai?” Soleh menatap kelima anggota dewan itu dengan raut wajah tak percaya. “Kita direkrut secara resmi oleh institusi pemerintahan gaib?”
“Diagnosis yang sangat tepat,” jawab sang ketua dewan sambil mengangguk. “Dunia gaib modern sedang dalam fase kekacauan struktural. Banyak entitas roh dan demit yang mulai bertindak melenceng jauh dari kodrat tradisional mereka. Mereka mengonsumsi terlalu banyak sinetron azab dan terpapar tren media sosial manusia. Mantel kiai berkekuatan tinggi, kemenyan, atau air suci standar sudah tidak mempan memengaruhi sosiologi mereka. Mereka butuh sesuatu yang lebih radikal, lebih tidak tertebak. Pendek kata, dunia gaib butuh sesuatu yang sebodoh dan se-absurd kalian berdua.”
Mendengar itu, Joko langsung merangkul pundak Soleh. Ia tertawa bangga, membusungkan dada seolah baru saja dianugerahi medali emas Olimpiade Sains. “Denger tuh, Leh! Kebodohan natural kita akhirnya diakui oleh pemerintah birokrasi alam gaib! Ini yang dinamakan validasi eksistensi, Bro!”
Misi Pertama: Misteri Pocong Balap Ber-NOS
“Jangan merayakan kemenangan terlalu dini, Petugas Borongan,” potong sosok berjubah di sebelah kiri, suaranya terdengar sinis dan birokratis. “Sesuai kontrak yang baru saja terikat secara kosmik, kami punya tugas lapangan pertama untuk kalian. Harus dieksekusi malam ini juga.”
Sebuah gulungan perkamen kulit domba melayang lambat menembus udara dan jatuh menimpa wajah Joko. Joko menyingkirkannya, lalu membuka gulungan tersebut. Di sana tergambar sebuah sketsa kasar—yang kualitas estetikanya menyerupai gambar anak Taman Kanak-Kanak—menampilkan sesosok makhluk putih yang dilingkari garis merah.
“Laporan intelijen masuk: Ada seekor pocong lokal di Distrik 4 Desa Sukamaju,” jelas kurator itu dengan nada serius. “Dia sedang mengalami krisis eksistensi parah. Alih-alih melompat di bawah pohon pisang untuk menakut-nakuti warga sipil sesuai SOP perhantuan, dia malah nekat mendaftar dan ikut serta dalam turnamen lomba balap karung tujuh belasan antar RT.”
Soleh mengerutkan dahinya, bingung dengan akar masalahnya. “Terus pasal pelanggarannya di mana? Biarin aja dia partisipasi dan bersosialisasi. Bukankah itu inklusif untuk integrasi manusia dan jin?”
“Masalah krusialnya,” suara dewan itu menegang, memancarkan urgensi tinggi, “dia bermain curang. Investigasi membuktikan dia telah memodifikasi kain kafan bawahnya dengan semacam Nitrous Oxide System (NOS) gaib ilegal. Dia sudah memenangkan piala di tiga desa berturut-turut dengan kecepatan supersonik. Tindakannya membuat anak-anak desa trauma menangis, dan kepala desa terancam bangkrut karena harus membayar hadiah utama berupa kambing etawa berulang kali. Tugas pertama kalian adalah melakukan intervensi dan menghentikannya. Sita kafan turbonya malam ini juga.”
Joko dan Soleh terdiam membisu. Udara pagi yang basah dan dingin mulai menyusup perlahan dari celah-celah jendela gedung tua yang pecah. Sinar matahari keperakan menembus debu, menandakan bahwa malam gila yang nyaris merenggut nyawa mereka baru saja berakhir, hanya untuk digantikan oleh shift pagi yang level ketidakwarasannya jauh lebih tinggi.
Joko memasukkan kartu identitas KUG logamnya ke dalam saku celana jeans yang robek di bagian lutut. Ia menoleh menatap Soleh, menyeringai lebar penuh antisipasi. “Leh, sebagai support tim, kayaknya lo harus mulai cari rima sakti buat kata ‘knalpot racing’ dari sekarang.”
Soleh mendesah panjang nan berat, menepuk sampul tebal KBBI-nya. “Ayo kita berburu pocong balap ilegal, Jok. Tapi gue peringatkan, kalau misi ini sampai mengharuskan gue nulis rima konyol tentang kambing etawa, gue bakal resign dan buka warung pecel lele.”
Mereka berdua berjalan santai keluar dari reruntuhan pasar induk gaib itu, meninggalkan tumpukan konfeti kertas, anggota dewan birokratis, dan sisa-sisa kewarasan mereka di belakang.
Desa Sukamaju mungkin tidak memiliki pahlawan super berjubah canggih ala komik Amerika, tapi malam ini, desa itu jelas baru saja meresmikan dua algojo paling konyol yang pernah bernapas di dua alam sekaligus.

