Akhir dari trilogi kisah Rizki dan Ajeng! Apa jadinya jika mesin penyedot polusi malah menyedot daster warga dan mengubah langit menjadi hujan kerupuk? Simak cerpen komedi fiksi teknologi ini.
Direktur Teknologi dan Mesin Pencuci Awan
Seminggu setelah insiden “Robot Anjing Galau“, aku resmi menjabat sebagai Direktur Teknologi di perusahaan Pak Bambang. Ruanganku mewah, kursinya bisa memijat punggung otomatis, dan yang paling penting: tidak ada satu pun baut yang berani lepas di depanku. Namun, jiwaku tetaplah jiwa montir jalanan yang rindu aroma bensin eceran.
[Baca Cerita Sebelumnya : Revolusi Mesin]
Pagi itu, Ajeng masuk ke ruanganku dengan langkah yang lebih cepat dari putaran mesin jet. Wajahnya merah padam.
“Rizki! Kamu harus lihat ini!” teriaknya sambil membanting sebuah tablet ke mejaku.
“Mbak, tenang. Tarik napas, buang lewat knalpot,” kataku santai sambil menyeruput kopi yang tidak lagi bisa menembak dinding.
“Ini bukan soal knalpot! Lihat! Pak Bambang baru saja membeli aset ‘Mesin Pencuci Awan’ dari luar negeri. Katanya untuk mengatasi polusi kota. Tapi ada satu masalah kecil…”
“Masalah kecil apa?”
“Mesinnya tidak bisa dimatikan. Dan sekarang, dia sedang menyedot semua jemuran warga di tiga kecamatan!”
Aku melompat dari kursi pijatku. “Apa?! Jemuran?!”
“Iya! Karena algoritmanya mendeteksi ‘partikel kain lembap’ sebagai polutan yang harus dibersihkan dari muka bumi!”
Kiamat Fashion dan Sistem Operasi “Pasrah OS”
Kami melesat menuju lokasi kejadian menggunakan mobil dinas baru. Di sana, pemandangannya sungguh apokaliptik. Sebuah mesin raksasa berbentuk seperti hairdryer raksasa sedang mengarah ke langit, tapi moncong pengisapnya justru menyapu perumahan warga.
“Rizki! Tolong!” teriak seorang warga sambil memegangi jemuran daster istrinya yang mulai terangkat ke udara. “Ini daster keberuntungan saya! Jangan biarkan mesin itu mengambilnya!”
“Sabar, Pak! Saya ahli mesin, bukan ahli tekstil!” balasku sambil mengeluarkan kunci inggris raksasa dari bagasi.
Di dekat mesin itu, Pak Bambang berdiri dengan wajah panik, memegang sebuah remote kontrol yang sepertinya sudah hancur dikunyah anjing.
“Den Rizki! Tolong! Saya salah pencet tombol! Saya niatnya mau nyalain fitur ‘Wangi Lavender’, eh malah kepencet fitur ‘Vakum Semesta’!”
“Pak Bambang! Bapak ini direktur teknologi atau operator warnet sih?!” geramku. “Mbak Ajeng, mana akses panel kontrolnya?”
“Nggak bisa dibuka, Rizki! Pintu panelnya macet karena ada kancing baju yang terselip di celahnya!” Ajeng mencoba mencongkel pintu mesin itu dengan kuku cantiknya.
“Minggir, Mbak! Biar ahli ‘perangkat lembek’ yang turun tangan!”
Aku merangkak ke bawah mesin yang bergetar hebat itu. Suaranya seperti ribuan lebah yang sedang demo kenaikan harga gula. Di dalam sana, aku melihat kerumitan yang luar biasa. Kabel-kabel fiber optic berseliweran, sensor ultrasonik berkedip-kedip, dan di tengah-tengah itu semua… ada sebuah mesin fotokopi tua yang entah kenapa terintegrasi di sana.
“Rizki! Cepat! Daster warga sudah mulai masuk ke corong pembuangan!” Ajeng berteriak dari atas.
“Tunggu! Aku lagi mikir! Ini mesin pakai sistem operasi apa sih?” tanyaku pada Pak Bambang.
“Kayaknya pakai sistem operasi ‘Pasrah OS’ versi 2.0, Den!” jawab Pak Bambang dari kejauhan.
“Pantesan nggak nyambung!” aku mulai membedah kabel-kabel itu. “Ajeng! Ambilkan aku obeng plus nomor dua dan satu sachet deterjen cair!”
“Deterjen buat apa, Rizki?!”
“Buat melumasi engsel yang macet! Udah, jangan banyak tanya, ini masalah aerodinamika sabun!”
Ajeng berlari dan kembali dengan deterjen. Aku menyiramkan cairan hijau itu ke arah engsel panel yang macet. Srek! Pintu panel terbuka. Di dalamnya, aku melihat layar monitor yang menampilkan tulisan:
“POLUSI TERDETEKSI: 4.500 CELANA DALAM, 2.000 KAOS KAKI, 1 DASTER MOTIF MACAN. PROSES PENGHANCURAN: 60 DETIK.”
“Aduh, kiamat fashion ini mah!” teriak Pak Bambang.
Hujan Kerupuk dan Trik Kabel Mesin Tik
“Rizki, lakukan sesuatu!” Ajeng memegang bahuku, wajahnya sangat dekat. “Kalau mesin ini meledak karena kelebihan beban jemuran, kita semua bakal mandi busa sabun seumur hidup!”
Aku berpikir keras. Algoritma mesin ini mencari ‘kelembapan’. Jika aku bisa menipu sensornya dengan sesuatu yang sangat kering, mungkin dia akan berhenti.
“Ayah! Ayah ada di sini nggak?!” teriakku.
Tiba-tiba Ayah muncul dari balik kerumunan warga, membawa sebuah kotak besar berisi kerupuk kaleng. “Ayah di sini, Rizki! Ayah mau jualan kerupuk buat warga yang lagi sedih kehilangan jemuran!”
“Ayah! Lempar semua kerupuk itu ke dalam pengisap mesin!”
“Lho? Sayang dong, Ki! Ini modalnya gede!”
“Ayah mau kerupuk itu selamat atau mau daster Ibu yang di rumah ikut kesedot?!”
Mendengar kata ‘Ibu’, Ayah langsung sigap. Dengan gaya seperti pelempar cakram olimpiade, Ayah melempar ribuan kerupuk kering ke arah moncong mesin. Krak! Kruk! Krak!
Mesin itu menelan ribuan kerupuk. Di layar monitor, algoritma mulai berubah.
“ANALISIS: PARTIKEL SANGAT KERING TERDETEKSI. TINGKAT KELEMBAPAN: 0%. STATUS: GURIIIIH.”
“Berhasil! Mesinnya bingung!” teriak Ajeng.
Namun, mesin itu tidak mati. Ia justru mulai berputar arah. Sekarang ia tidak lagi mengisap, tapi mulai… menggoreng.
“Waduh! Fitur ‘Vakum’ berubah jadi fitur ‘Deep Fry’!” teriakku. “Semuanya tiarap!”
Mesin raksasa itu mulai menyemburkan udara panas yang luar biasa. Kerupuk-kerupuk di dalamnya mulai meletup-letup. Warga yang tadi sedih, sekarang malah senang karena hujan kerupuk matang turun dari langit.
“Wah, hebat Den Rizki! Mesin polusi jadi mesin katering!” Pak Bambang bertepuk tangan kegirangan.
“Bapak diam atau saya masukkan Bapak ke dalam penggorengan itu!” ancamku. “Ajeng, satu-satunya cara mematikan ini adalah dengan mencabut ‘jantung’ datanya. Tapi letaknya di atas moncong itu!”
Ajeng memanjat mesin raksasa itu dengan lincah. Aku menatapnya dari bawah dengan penuh kekaguman. Di tengah hujan kerupuk dan uap panas, Ajeng berhasil mencapai puncak moncong mesin.
“Rizki! Aku sudah di sini! Yang mana yang harus dicabut?!”
“Cari kabel warna merah yang ada tulisan ‘DO NOT PULL’!”
“Semuanya tulisan ‘DO NOT PULL’, Rizki! Penulis mesin ini kayaknya orangnya skeptis banget!”
“Cari yang nyambung ke mesin ketik tua!”
Ajeng menarik kabel itu dengan sekuat tenaga. Zzzzzzzttttt!
Mesin raksasa itu mengerang pelan, mengeluarkan suara “Kruuuk…” yang panjang, lalu akhirnya benar-benar mati. Keheningan kembali melanda perumahan warga. Hanya ada suara kriuk-kriuk warga yang mulai memunguti kerupuk gratis di jalanan.
Pesan Terakhir Auditor dan The Power of Emak-Emak
“Kita berhasil, Ki,” bisik Ajeng yang turun dengan napas terengah-engah dan wajah penuh remah kerupuk.
“Iya, Mbak. Kita menyelamatkan jemuran dunia,” jawabku sambil menyeka noda minyak di pipinya.
Pak Bambang mendekat dengan wajah penuh sesal. “Den Rizki, Mbak Ajeng… saya minta maaf. Besok saya janji cuma mau beli mesin pembuat es cendol saja.”
“Janji ya, Pak? Kalau mesin cendolnya nanti bisa nembakin santan nuklir, saya beneran resign!” ancamku.
Sore itu, kami duduk di teras rumah sambil melihat warga yang sibuk memasang kembali jemuran mereka. e-KTP mereka mungkin masih harus difotokopi, birokrasi mungkin masih lambat, tapi setidaknya hari ini tidak ada daster yang hilang ditelan teknologi.
“Ki,” panggil Ajeng pelan. “Soal ‘perangkat lembek’ yang kamu bilang tadi… kamu tahu nggak apa yang paling lembek di dunia ini?”
Aku berpikir sejenak. “Algoritma buatan Pak Bambang?”
Ajeng tersenyum manis, lalu menjentik dahiku pelan. “Bukan. Yang paling lembek itu adalah hatimu, Rizki. Keras di luar kayak mesin diesel, tapi dalamnya selembut bubur sumsum kalau sudah menyangkut urusan menolong orang.”
Aku tersipu malu. “Kalau Mbak Ajeng tahu nggak apa yang paling keras di dunia ini?” Aku menunjuk ke arah Pak Bambang yang sedang asyik memotret mesin rusak tadi untuk diposting di media sosial dengan caption ‘Inovasi Baru: Mesin Kerupuk Udara’. “Yang paling keras di dunia ini adalah muka temboknya Pak Bambang. Sudah bikin rusuh, masih sempat-sempatnya bikin konten.”
Kami tertawa bersama. Di pojok teras, mesin fotokopi tua yang tadi kucabut dari mesin raksasa tiba-tiba menyala sendiri tanpa dicolok listrik. Ia mengeluarkan selembar kertas terakhir:
“REVISI ADALAH KUNCI, TAPI JANGAN LUPA: SEBELUM MEMPERBAIKI DUNIA, PASTIKAN JEMURANMU SUDAH KERING. SALAM KRIUK, THE AUDITOR.”
Aku dan Ajeng saling pandang, lalu serentak menoleh ke arah jemuran di belakang rumah kami. Ternyata benar. Hujan kerupuk tadi membuat jemuran kami basah lagi karena cipratan minyak.
“RIZKIIIIII! JEMURANNYA KENA MINYAAAK!” teriak Ibu dari dalam rumah.
Aku menghela napas, mengambil kunci inggris, dan menatap Ajeng. “Mbak, sepertinya kita butuh inovasi baru.”
“Apa itu, Ki?”
“Mesin cuci otomatis yang bisa minta maaf sama Ibu.”
Seketika itu juga, Ibu keluar membawa sapu lidi. “Nggak usah mesin cuci! Pakai tangan! Biar otot kamu nggak ‘lembek’ kayak tulisan blog kamu!”
Dan di sanalah sang Direktur Teknologi, berlari keliling komplek dikejar Ibunya sendiri, membuktikan bahwa teknologi secanggih apa pun akan kalah telak oleh kekuatan absolut: The Power of Emak-Emak.

