Labirin Mesin dan Pena Kiamat

Sebuah pena merah yang menyala terang tergeletak di atas kunci inggris berlumur oli, ilustrasi cerpen fiksi teknologi komedi.
Bom nuklir pemusnah massal atau sekadar eksperimen gila di atas nisan besi?

Seorang montir jalanan terjebak dalam misi penyelamatan dunia dari ledakan nuklir. Namun, apa jadinya jika “bom” yang ia bawa ternyata hanyalah sebuah eksperimen kuliner yang gila?

Antara Kunci Inggris dan Pisau Dapur

Namaku Rizki Ihsan, dan hidupku dikelilingi oleh benda-benda yang bernapas dengan oli dan berdetak dengan piston. Bagiku, tidak ada suara yang lebih merdu daripada deru mesin diesel di pagi hari atau desis uap dari radiator yang bocor.

Ayahku, seorang koki perfeksionis yang bisa membedakan tujuh jenis garam hanya dengan mencium aromanya, selalu menganggap minatku sebagai kutukan.

“Menulislah, Nak,” katanya suatu sore sambil mengasah pisau dapur kesayangannya. “Tuliskan resep-resep hebat. Jangan sampai kau hanya menuliskan keluh kesah di atas nisan besi yang karatan karena terlalu sibuk mengurus mesin busuk.”

Ayah ingin aku memegang sudip, bukan kunci inggris. Tapi ibuku berbeda. Ibuku adalah alasan kenapa aku menjadi “manusia mesin”. Beliau punya kegemaran aneh menyentuh mesin-mesin pabrik yang panas, seolah-olah getaran frekuensi tinggi dari mesin itu bisa menyembuhkan sakit kepalanya. Sejak di dalam kandungan, mungkin aku sudah terbiasa dengan aroma bensin yang meresap melalui plasenta.

Kini, aku berdiri di sebuah persimpangan aneh dalam hidupku. Aku tidak punya bengkel resmi, hanya sebuah blog tempatku mencurahkan “puisi permesinan”. Namun, malam tadi, sebuah benda jatuh ke pangkuanku dan mengubah segalanya. Sebuah pena merah.

Teror Pena Merah dan Peringatan Kiamat

Pukul tiga dini hari, pena itu berpijar di atas meja kerjaku. Cahayanya bukan putih biasa, melainkan merah menyala yang menyakitkan mata, seolah-olah ia adalah laser yang sedang memindai seluruh isi kamarku. Suhu udara mendadak naik. Aku terpaku, menutup mata dengan lengan, hingga lima menit kemudian kegelapan kembali meraja.

Keesokan paginya, suasana berubah menjadi mencekam. Aku terbangun oleh raungan sirine yang bersahutan. Saat aku mencoba menyalakan ponsel berbentuk mouse unikku—yang kalau dicas bisa menyedot daya 2000 watt hingga membuat tetangga mengira ada pemadaman massal—sebuah notifikasi surel masuk:

“DIBURU: PENA PROTOTIPE X-100. RADIUS LEDAKAN 100 KM. JANGAN DISENTUH.”

Jantungku hampir copot. Aku melirik ke arah saku celana bengkelku. Pena itu ada di sana. Diam. Dingin. Mematikan. Di luar, polisi dan agen berjas hitam sudah mengepung gang rumahku. Komandan Andrian sedang menginterogasi Pak RT yang wajahnya sepucat kertas fotokopi.

“Pak RT, kami mencari benda kecil berbentuk pena. Jika ada warga yang menyimpan, mereka dalam bahaya besar!” gertak Andrian.

Aku tidak punya pilihan. Jika aku menyerah sekarang, aku akan dianggap teroris. Tapi jika aku diam, aku membawa bom berjalan. Di tengah kepanikan itu, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari pelanggan lama: Pak Kumis.

“Ki, generator buat hajatan anak saya mati! OTW sekarang atau saya laporin kamu ke dinas kebersihan!”

“Sial,” umpatku. “Mungkin di pinggiran kota aku bisa membuang benda ini dengan aman.”

Aku memacu motor bebekku, melewati barisan agen rahasia dengan jantung yang berpacu kencang. Di gerbang keluar gang, aku sempat berpapasan dengan seorang wanita cantik berambut panjang yang tampak sangat gusar. Namanya Ajeng. Ia sedang dimarahi oleh seorang pria tinggi besar berjas rapi.

“Bagaimana bisa kau menjatuhkan ‘kunci’ itu, Ajeng?! Itu jantung dari proyek kita!” bentak pria itu.

Ajeng hanya menunduk, matanya yang indah tampak berkaca-kaca. Aku ingin berhenti dan menghiburnya, tapi saku celanaku terasa panas. Pena itu seolah mulai bereaksi dengan logam motorku. Aku tancap gas.

Sabotase Generator dan Ancaman Radiasi

Sampai di kediaman Pak Kumis, suasana sudah ricuh. Tenda hajatan sudah berdiri, kursi-kursi sudah tertata, tapi lampu-lampu masih padam. Pak Kumis menyambutku dengan wajah yang lebih kusut daripada kabel semrawut.

“Lama banget sih, Ki! Ini tamu mau datang sejam lagi. Generatornya macet, kayaknya pistonnya lengket!” seru Pak Kumis.

“Sabar, Pak. Mesin itu butuh kasih sayang, bukan bentakan,” jawabku sambil membuka kotak perkakas.

Aku merangkak masuk ke kolong generator raksasa tipe silent yang mesinnya sudah dimodifikasi sana-sini. Ruangannya sangat sempit dan berminyak. Saat aku mencoba menjangkau katup bahan bakar, celanaku tersangkut baut. Pena merah itu merosot keluar dari saku, meluncur dengan mulus ke dalam lubang udara (air intake) mesin generator.

Klang! Suara logam beradu logam terdengar dari dalam mesin.

“Waduh! Gawat!” teriakku.

“Apa yang gawat, Ki? Tikus mati lagi di dalem?” tanya Pak Kumis dari luar.

“Lebih parah dari tikus, Pak! Jangan dinyalakan dulu!”

Namun terlambat. Pak Kumis, dengan semangat membara, menarik tuas recoil generator itu. Vroom! Brrrrmmmm! Mesin itu menderu kuat. Getarannya tidak wajar. Suaranya bukan lagi dengkuran kucing, tapi lebih mirip raungan naga yang sedang sakit gigi.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam besar menerjang pagar rumah Pak Kumis. Ajeng meloncat turun dari mobil, kali ini ia memegang sebuah alat pemindai elektronik.

“Matikan mesinnya! Sensor data menunjukkan reaktifitas nuklir meningkat di titik ini!” teriak Ajeng panik.

“Mbak Ajeng?” aku keluar dari kolong mesin dengan wajah penuh oli. “Mbak, penanya masuk ke ruang bakar!”

Ajeng membelalak, wajah cantiknya mendadak pucat pasi. “Rizki? Kau yang membawanya? Jika pena itu hancur tergerus piston, reaktor mini di dalamnya akan meledak dan radius seratus kilometer dari sini akan jadi padang sisa kiamat!”

“Waduh, masa undangan anak saya makan prasmanan sambil jadi debu radioaktif?” Pak Kumis mulai panik, ia mencoba lari tapi kakinya tersangkut kabel.

“Rizki, kita harus membedah mesin ini sekarang! Aku akan menahan suhu reaktor dengan pendingin portabel ini, kamu harus ambil penanya sebelum suhunya mencapai titik kritis!” perintah Ajeng.

Bumbu Rahasia di Balik Kiamat

Kami berdua beraksi. Ini adalah duet maut antara teknisi mesin jalanan dan agen rahasia. Aku mengambil kunci ring 14 dan obeng ketok. Tangan kami bergerak cepat di antara komponen mesin yang mulai membara.

“Baut head-nya macet, Mbak!” teriakku.

“Pakai ini!” Ajeng menyemprotkan nitrogen cair ke baut tersebut. Cessss! Asap putih mengepul.

Aku memutar baut itu sekuat tenaga. Tepat di saat itu, tanganku dan tangan Ajeng bersentuhan. Di tengah ancaman kiamat, aku merasakan sensasi aneh. Apakah ini yang namanya cinta di tengah radiasi?

“Fokus, Rizki! Tiga puluh detik lagi!” teriak Ajeng membuyarkan lamunanku.

Aku berhasil membuka penutup blok mesin. Di sana, di atas kepala piston yang bergerak naik turun, pena merah itu terjepit. Warnanya sudah ungu gelap. Dengan tang kombinasi panjang, aku menariknya keluar dengan presisi seorang dokter bedah.

Seketika, mesin generator itu mati. Sunyi. Hanya suara napas kami yang memburu. Aku memandangi pena di tanganku yang perlahan mendingin. “Kita selamat, Mbak,” bisikku.

“Terima kasih, Rizki. Kamu… luar biasa untuk ukuran orang yang nggak punya bengkel,” kata Ajeng tersenyum manis.

Namun, keheningan itu pecah saat sebuah tepuk tangan terdengar dari arah mobil hitam. Ayahku keluar dari sana. Beliau tidak lagi memakai baju koki, melainkan jas hitam rapi, namun di pinggangnya masih tersampir sebuah celemek bertuliskan “The Grill Master”. Di belakangnya, Komandan Andrian dan para agen rahasia ikut berdiri tegak.

“Ujian selesai,” kata Ayah datar.

Aku melongo. “Ujian? Maksud Ayah apa?”

“Rizki, Ayah sudah bosan berdebat denganmu soal karier. Ayah tahu kamu cinta mesin, tapi Ayah ingin kamu punya tujuan. Pena itu… bukan bom nuklir,” Ayah berjalan mendekat dan mengambil pena itu dari tanganku.

“Bukan bom? Tapi Ajeng bilang…” aku menatap Ajeng.

Ajeng tersenyum nakal. “Maaf, Rizki. Aku bukan agen rahasia. Aku adalah manajer operasional Research & Development untuk alat masak masa depan di perusahaan Ayahmu.”

Ayah menekan tombol di ujung pena itu. Bukannya ledakan yang menghancurkan kota, sebuah aroma yang sangat lezat—perpaduan antara daging panggang, bawang putih, dan bumbu rahasia—tersemprot keluar dari ujung pena.

“Ini adalah Flavor-Infusion Pen,” jelas Ayah. “Dirancang untuk menyuntikkan bumbu ke dalam serat daging paling keras sekalipun menggunakan teknologi tekanan tinggi. Kami sengaja menyetingnya agar berpijar dan panas supaya kamu mengira itu komponen mesin berbahaya. Ayah ingin tahu, apakah keahlian mesinmu bisa menyelamatkan sesuatu yang penting?”

“Jadi… semua polisi dan sirine itu?” tanyaku masih tidak percaya.

“Hanya figuran dari sekolah akting. Kecuali Pak RT, dia beneran bingung,” sahut Komandan Andrian sambil melepas kacamata hitamnya.

Aku terduduk di atas genangan oli, antara ingin marah dan tertawa. “Jadi Ayah mau Rizki jadi koki yang pakai teknologi mesin?”

“Ayah mau kamu jadi pemilik bengkel, Rizki. Tapi bukan bengkel mobil busuk,” Ayah menepuk bahuku. “Bengkel Inovasi Alat Pangan Nasional. Kita gabungkan mesinmu dengan rasa Ayah. Ajeng akan jadi partner bisnismu… kalau kamu mau.”

Ajeng mengulurkan tangannya. “Gimana, Mas Rizki? Mau benerin ‘mesin’ dapur dunia bersamaku?”

Aku menatap tangan Ajeng, lalu menatap mesin generator Pak Kumis yang kini baunya seperti restoran steak bintang lima.

“Boleh,” jawabku menjabat tangannya. “Tapi satu syarat, Yah. Ponsel berbentuk mouse ini jangan disita. Daya 2000 watt-nya berguna buat bikin panggangan listrik darurat kalau kita lagi camping.”

Kami semua tertawa di bawah langit senja pinggiran kota. Pak Kumis akhirnya bisa memulai hajatannya, meski para tamu bingung kenapa generatornya mengeluarkan wangi ayam bakar yang sangat menggoda. Di hari itu, aku belajar satu hal: akal dan sabar memang kunci masalah, tapi sedikit “bumbu” dalam hidup bisa membuat takdir terasa jauh lebih nikmat.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *