Petualangan Absurd Joko & Soleh Melawan Editor Maut

Petualangan Absurd Joko & Soleh Melawan Editor Maut

Apa jadinya jika duo pemabuk dan pujangga gagal rima diundang oleh Dewan Kurator Keabadian? Simak kelanjutan kisah Joko dan Soleh dalam misi menjadi penangkap roh paling tidak masuk akal di Sukamaju.

Amplop Hitam dan Undangan di Balik Pasar Induk

Matahari makin meninggi, memantul di atas botol wiski kosong yang tergeletak di teras seolah itu adalah artefak kuno yang sakral. Joko masih mencoba menyelaraskan denyut di pelipisnya dengan realita, sementara Soleh menatap buku sakunya dengan pandangan seorang nabi yang baru saja menerima wahyu palsu.

“Leh,” Joko memecah keheningan, suaranya terdengar seperti gesekan amplas di kayu jati. “Kalau semalam itu bukan kau yang kupeluk… lalu siapa yang badannya licin kayak belut sawah tapi dingin kayak es mambo?”

Baca Juga : Cara Absurd Mengusir Hantu

Soleh tidak menjawab. Ia sedang sibuk mencatat sebuah bait baru. Tangannya gemetar. “Jok, semalam itu bukan sulap. Itu adalah benturan dimensi antara estetika tinggi dan rendah. Hantu itu pergi karena dia sadar bahwa di dunia ini, ada yang lebih mengerikan daripada kematian: yaitu orang yang gagal rima.”

Tiba-tiba, sebuah suara klak terdengar dari arah gerbang. Sebuah amplop hitam legam terselip di bawah pintu. Tanpa perangko, hanya ada segel lilin merah berbentuk botol wiski dan sebuah pena bulu yang patah. Joko merobeknya dengan kasar.

“Kepada Tuan Pemeluk Maut dan Sang Pujangga Kegelapan…”

“Performa kalian semalam telah menarik perhatian ‘Dewan Kurator Keabadian’. Kami mengundang kalian ke Gedung Tua di balik Pasar Induk pukul 00.00. Bawa wiski kalian. Bawa puisi kalian. P.S: Soleh, rima A-B-A-B mu benar-benar sampah. Perbaiki.”

Soleh nyaris pingsan. Harga dirinya sebagai penyair amatir terinjak-injak oleh entitas tak ber-KTP. “Dia menghina rimaku, Jok! Ini perang!”

Perburuan di Pasar Induk: Strategi Slapstick Berdarah

Malam itu, mereka berangkat dengan persiapan tempur yang sangat meragukan. Joko mengenakan helm bogo retak dan membawa sebotol wiski cadangan—”Buat bahan bakar pelukan,” katanya. Soleh membawa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tebal, siap dilemparkan jika puisinya gagal lagi.

Gedung tua di balik pasar itu tampak seperti raksasa yang sedang sakit gigi. Saat mereka masuk, bau busuk sayuran sisa bercampur dengan aroma kemenyan yang aneh.

KREEEKK.

“Siapa di sana? Keluar kau, Soleh KW!” teriak Joko, suaranya menggema.

Tiba-tiba, lampu minyak menyala sendiri. Di tengah ruangan, duduklah lima sosok berjubah putih di depan meja marmer besar. Joko, yang saraf malunya sudah putus, langsung duduk di kursi kayu yang rapuh. BRAK! Kursi itu hancur berkeping-keping. Joko jatuh terjengkang, namun segera bangkit seolah itu adalah bagian dari koreografi.

“Jangan main-main dengan furnitur!” gertak Joko sambil membenarkan posisi helm bogonya yang miring menutupi mata.

Dewan Kurator: Menjadi Penangkap Roh Bandel

“Kami adalah Dewan Kurator,” suara itu berat. “Roh yang kalian temui semalam adalah Kurir Kematian paling disegani selama 300 tahun. Tapi dia pensiun pagi ini karena trauma. Dia lebih baik masuk neraka daripada harus mencium bau mulut Joko dan mendengar puisi Soleh lagi.”

Karena telah membuat staf mereka pensiun, Joko dan Soleh dipaksa menjadi “Penangkap Roh Bandel”. Cara mereka yang absurd ternyata lebih efektif daripada mantra kuno mana pun.

Sosok itu menaruh dua benda di meja:

  1. Wiski Emas: Untuk Joko. Sekali teguk, ia bisa menyentuh makhluk gaib.

  2. Pena Phoenix: Untuk Soleh. Apa pun yang ia tulis dengan rima tepat akan menjadi kenyataan di dunia gaib. “Tapi jika rimamu meleset, kau sendiri yang akan terkena kutukan puisimu,” ancam sosok itu.

Serangan Sang Editor Maut

Tiba-tiba, pintu gedung terbanting menutup. Suara tawa melengking terdengar dari langit-langit. Sosok-sosok berjubah tampak panik.

“Dia datang! Eks-Kurir Kematian itu membawa temannya: Sang Editor Maut!

Dari kegelapan, muncul sesosok makhluk raksasa yang membawa pensil tajam bagai tombak. Wajahnya berupa tumpukan kertas koreksi yang berdarah-darah. Makhluk ini adalah mimpi buruk bagi setiap penulis dan pemabuk.

“Soleh…” bisik Joko, tangannya meraba botol wiski emas itu. “Gue rasa ini saatnya kita main sulap beneran.”

Soleh membuka buku sakunya dengan gerakan dramatis. “Jok, kalau kita mati malam ini, pastikan di nisan gue tertulis: Dia mati demi rima yang hakiki.

“Berisik, Leh! Ayo terjang!”

Joko meneguk wiski emas itu, dan seketika, otot-ototnya membesar—namun hanya di bagian telinga dan jempol kaki. Soleh mulai menulis dengan panik, sementara Sang Editor Maut meluncur dengan pensil raksasanya siap mencoret nyawa mereka dari daftar kehidupan.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *